Kamis, 18 Desember 2025

Megacolon pada Kucing

 






Definisi

Megacolon dapat diartikan sebagai pembesaran saluran pencernaan bagian bawah (colon) yang berfungsi dalam penyerapan air dan penyimpanan terakhir feses sebelum dikeluarkan. Dinding colon terdiri dari otot-otot yang dirangsang oleh saraf sumsum tulang belakang. Penurunan fungsi saraf pada colon dapat menyebabkan colon tidak dapat berkontraksi dengan baik, sehingga bagian colon yang terdampak dapat membesar hingga 3-4 kali dari diameter normalnya, dan menyebabkan penumpukan feses pada usus besar.

 

Pada umumnya kasus ini dapat terjadi pada kucing usia diatas 3 tahun. Beberapa hal yang dapat menyebabkan kasus ini diantaranya cedera pada sumsum tulang belakang, sumbatan benda asing pada saluran pencernaan, maupun tumor. Namun tidak menutup kemungkinan penyebabnya tidak dapat diidentifikasi atau disebut idiopathic megacolon.


Gejala Klinis

Tanda-tanda utama megacolon adalah sebagai berikut:

 

·         Mengejan di kotak kotoran

·         Depresi dan tidak nafsu makan

·         Penurunan berat badan

·         Nyeri pada perut ketika dipegang

·         Dehidrasi

·         Muntah

Peneguhan Diagnosa

Megacolon dapat diidentifikasi melalui pemeriksaan fisik, seperti meraba bagian perut belakang, biasanya akan teraba feses yang mengeras. Pemeriksaan lanjutan akan diperlukan untuk menangani lebih lanjut meliputi radiografi (x-ray dan USG), pemeriksaan darah dan kolonoskopi untuk mendeteksi massa pada abdomen.

Penanganan

 

Kasus ini dapat ditangani dengan pendekatan medis terlebih dahulu, meliputi terapi pereda nyeri, pencahar, pelunak feses, stimulan dinding usus besar, maupun diet pakan tinggi serat. Perlu digaris bawahi, pemberian treatment tidak bersifat kuratif, melainkan bersifat supportif, sehingga masih ada kemungkinan terjadinya relapse (kambuh).

 

Kasus awal megacolon biasanya dapat disembuhkan dengan obat obatan, namun pada jangka waktu tertentu, pada umumnya tubuh sudah tidak merespon terhadap treatment yang diberikan, sehingga harus mempertimbangkan dilakukan tindakan bedah pengangkatan sebagian usus yang mengalami penurunan fungsi (subtotal colectomy).


Prosedur subtotal colectomy hanya mengangkat sebagian usus yang terdampak dengan tetap menyisakan spinchter ani, sehingga hewan masih punya kendali untuk buang air besar. Sebagian besar kucing dapat membaik setelah dilakukan prosedur ini dengan sedikit efek samping yang permanen. Perlu dilakukan pengobatan seperti antibiotik dan pereda nyeri, pencahar apabila kembali mengalami konstipasi serta perawatan maintenance pasca operasi colectomy, diantaranya pemberian pakan tinggi serat.


Pencegahan

Tidak ada tindakan yang dapat mencegah kasus megacolon sepenuhnya. Namun apabila hewan memiliki riwayat kostipasi, baiknya tetap mengkonsumsi pakan tinggi serat dalam waktu jangka panjang, serta memastikan hewan dalam pantauan penuh.




Jumat, 12 Desember 2025

VULNUS LACERATUM IN CAT

 






Luka (vulnus) dapat dibedakan berdasarkan penyebab dan karakteristik luka. Berdasarkan penyebabnya, terdapat vulnus contussum (luka memar), vulnus abrasi (luka lecet), vulnus laceratum (luka robek), vulnus punctum (luka tusuk), vulnus schlopetum (luka tembak), vulnus morsum (luka gigitan), vulnus incisivum (luka sayat). Faktor-faktor penyebab luka dapat disebabkan oleh kesengajaan ataupun tidak disengaja. Contoh luka yang disengaja antara lain seperti insisi bedah, tusukan jarum kebagian tubuh, sedangkan luka yang tidak disengaja seperti akibat pisau, luka bakar atapun luka yang diakibatkan oleh benda tumpul/kontusio. Dampak atau akibat tidak melakukan perawatan luka adalah terjadinya hematoma, nekrosisjaringan lunak, keloid, scar, dan infeksi.

Vulnus laceratum adalah luka robek yang disertai dengan kehilangan jaringan yang minimum berbentuk tidak beraturan akibat terkena benda tajam atau tumbul yang menembus kulit atau otot. Vulnus laceratum bila terlambat ditangani dapat menyebabkan terjadinya infeksi seperti contohnya pada kasus kucing yang mana pada lukanya mengeluarkan nanah hingga sudah mengering di daerah leher sebelah kanan.

Penanganan yang diberikan pada kucing yang mengalami vulnus laceratum adalah dengan penerapan tiga prinsip penanganan luka yaitu melakukan pembersihan (cleansing) pada luka, selanjutnya dilakukan pengangkatan jaringan yang mati dan rusak (debridement) kemudian ditutup dengan penjahitan luka (suturing).


Anamnesa dan Sinyalemen

Seekor kucing betina bernama Lily dibawa oleh pemiliknya ke Klinik Hewan Awal Care Rawamangun dengan kondisi awal abses dan pecah saat dirumah, masih aktif dan nafsu makan masih bagus.

Pemeriksaan Fisik

Berat badan 3.9 Kg, suhu tubuh 40.7ÂșC, dan leher ada luka terbuka post abses

Diagnosa

Diagnosa dari kucing Lily adalah Vulnus Laceratum yang disebabkan oleh abses yg sudah pecah dengan prognosa Fausta.

Terapi

Terapi dimulai tanggal 11 November 2025 dengan dressing luka, pemberian racikan antibiotik

1.  cap PO SID, racikan antiradang 1 cap PO SID, dan suplemen kulit 1 cap PO SID.

 2  hari sekali melakukan treatment terapi laser.

Hari ke 10 luka masih terlihat cukup lebar, hari ke 15 luka sudah sangat mengecil.

Hari ke 15 Lily kondisi luka sudah sangat baik, sudah menutup namun masih sedikit lembab, nafsu makan lahap, suhu normal 38.6, dan pulang pada saat malam hari dijemput oleh ownernya dengan melanjutkan perawatan dirumah.


Kesimpulan

Vulnus laceratum yg terjadi pada kucing Lily akibat abses yg tidak ditangani lalu pecah yang menyebabkan luka tidak beraturan. Penanganan yang cepat dan tepat dapat menyelamatkan kondisi luka pada pasien. Penanganan yang terlambat dapat menyebabkan infeksi lebih lanjut pada pasien. Terapi menggunakan antibiotik, antiradang, suplement kulit dan terapi laser mempercepat penyembuhan luka pada pasien vulnus laceratum.