Minggu, 16 Juli 2017

Disusun oleh: Miftahul Jannah, S.KH
Mahasiswi Koasistensi di Awal Care asal Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

FRAKTUR HUMERUS
(Patah Tulang Komplit)

1.     Latar belakang
a.         Pengertian
Fraktur adalah terputusnya keutuhan tulang, umumnya akibat trauma. Menurut Smeltzer (2005). Fraktur atau patah tulang yaitu kerusakan jaringan tulang yang berakibat tulang yang menderita tersebut kehilangan kontinuitas atau kesinambungan (Leighton, 1993). Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stres yang lebih besar dari yang diabsorpsinya.
Menurut Hardiyani (1998), fraktur dapat diklasifikasikan  berdasarkan luas dan garis fraktur yaitu:
1.       Fraktur komplit adalah patah tuang yang menyebabkan tulang terbagi menjadi dua segmen dan biasanya disertai dengan displasia dari fragmen tersebut dan biasanya garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang.
2.       Fraktur tidak komplit adalah fraktur yang biasa terjadi pada hewan muda dan biasanya tulang  masih menyambung dan tidak terjadi perpindahan tulang, biasanya garis patah tidak melalui seluruh garis penampang tulang.

b.        Etilogi
Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan punter mendadak dan kontraksi otot yang ekstrim. Patah tulang mempengaruhi jaringan sekitarnya mengakibatkan oedema jaringan lunak, perdarahan ke otot dan sendi, dislokasi sendi, ruptur tendon, kerusakan saraf dan pembuluh darah
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya fraktur:
a.       Faktor ekstrinsik yaitu
Meliputi kecepatan dan durasi trauma yang mengenai tulang, arah serta kekuatan tulang.
b.      Faktor intrinsik yaitu
Meliputi kapasitas tulang mengabsorpsi energi trauma, kelenturan, densitas serta kekuatan tulang.
Sebagian besar patah tulang merupakan akibat dari cedera, seperti kecelakan mobil, olah raga atau karena jatuh. Jenis dan beratnya patah tulang dipengaruhi oleh arah, kecepatan, kekuatan dari tenaga yang melawan tulang, usia penderita dan kelenturan tulang. Tulang yang rapuh karena osteoporosis dapat mengalami patah tulang.

c.         Jenis
Jenis-jenis fraktur dapat dibagi menjadi:
          1.          Fraktur komplit
Patah pada seluruh garis tulang dan biasanya mengalami pergeseran dari posisi normal.
          2.          Fraktur tidak komplit
Patah tulang yang terjadi pada sebagian garis tengah tulang.
          3.          Fraktur tertutup
Patah tulang yang tidak menyebabkan robekan pada kulit. Patah tulang tertutup yaitu        patah tulang dimana tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar.
          4.          Fraktur terbuka/fraktur komplikata
Patah tulang dengan luka pada pada kulit dan atau membran mukosa sampai patahan tulang.

2.      Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan ekstremitas, krepitasi, pembengkakan lokal dan perubahan warna (Smeltzer, 2005).
- Nyeri terus menerus dan bertambah berat sampai fragmen tulang diimobilisasi.
- Pergeseran fragmen tulang menyebabkan deformitas tulang yang bisa diketahui dengan membandingkan dengan bagian yang normal.
- Pemendekan tulang yang disebabkan karena kontraksi otot yang melekat diatas maupun dibawah tempat fraktur.
- Pada pemeriksaan palpasi ditemukan adanya krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan yang lainnya.

- Pembengkakan dan perubahan warna lokal kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.

13. Anatomi Struktur Tulang (Kucing)

Hasil gambar untuk cat anatomy
Cat Anatomy (ajwarriorcats.wordpress.com)
4. Diagnosa
    Diagnosa berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik, hasil LAB dan Radiologi (X-Ray).  

  5። Penanganan
  Prinsip penanganan fraktur ada 4, yaitu: rekognisi, reduksi, retensi dan rehabilitasi.
1.       Rekognisi yaitu:
Mengenal jenis fraktur, lokasi dan keadaan secara umum; riwayat kecelakaan, parah tidaknya luka, diskripsi kejadian oleh pasien, menentukan kemungkinan tulang yang patah dan adanya krepitus.
2.       Reduksi yaitu:
Mengembalikan fragmen tulang ke posisi anatomis normal untuk mencegah jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan perdarahan.
3.        Reposisi yaitu:
Setelah fraktur di reduksi, fragmen tulang harus di imobilisasi atau dipertahankan dalam posisi penyatuan yang tepat. Imobilisasi dapat dilakukan dengan cara fiksasi internal dan eksternal.
4.   Rehabilitasi, mempertahankan dan mengembalikan fungsi tulang secara sempurna, dengan       cara:
S  Mempertahankan reduksi dan imobilisasi
S  Meninggikan ekstremitas untuk meminimalkan pembengkakan
S   Memantau status neorovaskular
S  Mengontrol kecemasan dan nyeri
S   Kembali keaktivitas secara bertahap

Pin intra medular adalah salah satu alat ortopedi yang paling sering digunakan dalam dunia veteriner, dengan teknik yang baik dan seleksi indikasi yang tepat, pin intramedular di fiksasi pada patah tulang metacarpal atau femu, huerusr dan tulang yang lain dapat memberikan keuntungan dalam stabilitas patah tulang (Chapman, 1996).
Faktor – faktor yang mempengaruhi kecepatan persembuhan fraktur adalah 1). Umur 2). Tipe fraktura, 3). Variasi individu 4). Tempat terjadinya trauma  5). Gizi yang baik pada hewan akan mempercepat proses persembuhan, 6). Adanya komplikasi penyakit sehingga menyebabkan imunitas turun maka persembuhannya akan lebih lama.
Berdasarkan hasil penelitian Syafruddin dkk. (2004), pemasangan pin intramedular dengan diameter yang tepat, akan mempercepat proses kesembuhan dari fraktur dan meminimalisir komplikasi.

1.     Pencegahan
Pencegahan fraktur dapat dilakukan berdasarkan penyebabnya. Pada umumnya fraktur disebabkan oleh peristiwa trauma benturan atau terjatuh baik ringan maupun berat. Pada umumnya upaya pengendalian kecelakaan dan trauma adalah suatu tindakan pencegahan terhadap peningkatan kasus kecelakaan yang menyebabkan fraktur.

Daftar Pustaka

Chapman, M. W. 1986. The role of intermedullary fixation in open fraccture. Clinical Orthopedicts.
212:26-33.
Leighton, L. R. 1993. Small Animal Orthopedics. Mosby-year Book Europe LTD., London. Pp 3.16-3.39.
Putra, I.G.Ag.P., Jaya, A.A.G.W., Gorda, I.W. 2009. Ilmu Bedah Khusus Veteriner I. Fakultas
Kedokteran Hewan. Universitas Udayana. Denpasar
Syafruddin, A.B. Santosa, dan  M. Untoro. 2004. Gambaran radiografi patah tulang paha setelah pemakaian pin intrameduler pada anjing (Canis familiaris). J. Sain Vet. 22(1):64-67.
Degner, Daniel A. 2010. Humeral Condylar Fractures. Surgery Service, Michigan Veterinary
Specialist. Michigan, Amerika.










Tidak ada komentar:

Posting Komentar