Minggu, 10 Desember 2017

FASILITAS RADIOLOGI

Untuk menunjang diangnosa secara gambar kami juga menfasilitasi klinik kami dengan ;
- Ultrasounography (USG)
- Rongent (X-Ray)

Ultrasound - USG

Rontgen - Xray

FASILITAS LABORATORIUM

Berikut alat dan bahan serta mesin-mesin laboratorium kami;
1. Mesin Analisa Darah Rutin (CBC)
2. Mesin Analisa Kimia Darah
3. Mikroskop Binocular
4. Cytologi
5. Wood Lamp
6. Centrifuge
7. Rapid Test (Parvo, Distemper, Panleukopeni, Toxoplasma, FCOV, Rivalta Test, Heart Worm dll)


Hematology Analyzer
Chemistry Analyzer
Microscope Binocular













"kami menerima sampel  sejawat dokter hewan sekalian untuk di uji di laboratorium kami"






ALAT BEDAH & MESIN PENDUKUNG

Alat Bedah Umum
  - Spay & Neuter/ Sterilisasi, dll

Alat Bedah Khusus
  - Bedah Orthopedi/ Tulang
  - Bedah Mulut
  - Bedah Mikro
  - Bedah Soft Tissue
  - Bedah Gastrointestinal/ Pencernaan
  - Bedah Thorax/ Dada

Mesin Pendukung
1. Mesin Gas Anesthesi & Ventilator
2. Pasien Monitor
3. Meja Bedah Hydrolix Elektrik Berpenghangat
4. Lampu Operasi
5. Elektro Cauter
6. Suction Pump
7. Infusion Pum
8. Illuminator X - ray/ Viewer Rongent
9. Sterilisator Alat dan Bahan Bedah
Mesin Anestesi, Ventilator & Pasien Monitor Khusus Hewan
Kami juga memiliki Dokter Hewan Minat Khusus Bedah yang tergabung dalam
"Asosiasi Dokter Bedah Veteriner Indonesia" 
(ADBVI)



Minggu, 16 Juli 2017

Disusun oleh: Miftahul Jannah, S.KH
Mahasiswi Koasistensi di Awal Care asal Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

FRAKTUR HUMERUS
(Patah Tulang Komplit)

1.     Latar belakang
a.         Pengertian
Fraktur adalah terputusnya keutuhan tulang, umumnya akibat trauma. Menurut Smeltzer (2005). Fraktur atau patah tulang yaitu kerusakan jaringan tulang yang berakibat tulang yang menderita tersebut kehilangan kontinuitas atau kesinambungan (Leighton, 1993). Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang yang ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stres yang lebih besar dari yang diabsorpsinya.
Menurut Hardiyani (1998), fraktur dapat diklasifikasikan  berdasarkan luas dan garis fraktur yaitu:
1.       Fraktur komplit adalah patah tuang yang menyebabkan tulang terbagi menjadi dua segmen dan biasanya disertai dengan displasia dari fragmen tersebut dan biasanya garis patah melalui seluruh penampang tulang atau melalui kedua korteks tulang.
2.       Fraktur tidak komplit adalah fraktur yang biasa terjadi pada hewan muda dan biasanya tulang  masih menyambung dan tidak terjadi perpindahan tulang, biasanya garis patah tidak melalui seluruh garis penampang tulang.

b.        Etilogi
Fraktur dapat disebabkan oleh pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan punter mendadak dan kontraksi otot yang ekstrim. Patah tulang mempengaruhi jaringan sekitarnya mengakibatkan oedema jaringan lunak, perdarahan ke otot dan sendi, dislokasi sendi, ruptur tendon, kerusakan saraf dan pembuluh darah
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya fraktur:
a.       Faktor ekstrinsik yaitu
Meliputi kecepatan dan durasi trauma yang mengenai tulang, arah serta kekuatan tulang.
b.      Faktor intrinsik yaitu
Meliputi kapasitas tulang mengabsorpsi energi trauma, kelenturan, densitas serta kekuatan tulang.
Sebagian besar patah tulang merupakan akibat dari cedera, seperti kecelakan mobil, olah raga atau karena jatuh. Jenis dan beratnya patah tulang dipengaruhi oleh arah, kecepatan, kekuatan dari tenaga yang melawan tulang, usia penderita dan kelenturan tulang. Tulang yang rapuh karena osteoporosis dapat mengalami patah tulang.

c.         Jenis
Jenis-jenis fraktur dapat dibagi menjadi:
          1.          Fraktur komplit
Patah pada seluruh garis tulang dan biasanya mengalami pergeseran dari posisi normal.
          2.          Fraktur tidak komplit
Patah tulang yang terjadi pada sebagian garis tengah tulang.
          3.          Fraktur tertutup
Patah tulang yang tidak menyebabkan robekan pada kulit. Patah tulang tertutup yaitu        patah tulang dimana tidak terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar.
          4.          Fraktur terbuka/fraktur komplikata
Patah tulang dengan luka pada pada kulit dan atau membran mukosa sampai patahan tulang.

2.      Manifestasi Klinis
Manifestasi klinis fraktur adalah nyeri, hilangnya fungsi, deformitas, pemendekan ekstremitas, krepitasi, pembengkakan lokal dan perubahan warna (Smeltzer, 2005).
- Nyeri terus menerus dan bertambah berat sampai fragmen tulang diimobilisasi.
- Pergeseran fragmen tulang menyebabkan deformitas tulang yang bisa diketahui dengan membandingkan dengan bagian yang normal.
- Pemendekan tulang yang disebabkan karena kontraksi otot yang melekat diatas maupun dibawah tempat fraktur.
- Pada pemeriksaan palpasi ditemukan adanya krepitasi akibat gesekan antara fragmen satu dengan yang lainnya.

- Pembengkakan dan perubahan warna lokal kulit terjadi sebagai akibat trauma dan perdarahan yang mengikuti fraktur.

13. Anatomi Struktur Tulang (Kucing)

Hasil gambar untuk cat anatomy
Cat Anatomy (ajwarriorcats.wordpress.com)
4. Diagnosa
    Diagnosa berdasarkan gejala klinis, pemeriksaan fisik, hasil LAB dan Radiologi (X-Ray).  

  5። Penanganan
  Prinsip penanganan fraktur ada 4, yaitu: rekognisi, reduksi, retensi dan rehabilitasi.
1.       Rekognisi yaitu:
Mengenal jenis fraktur, lokasi dan keadaan secara umum; riwayat kecelakaan, parah tidaknya luka, diskripsi kejadian oleh pasien, menentukan kemungkinan tulang yang patah dan adanya krepitus.
2.       Reduksi yaitu:
Mengembalikan fragmen tulang ke posisi anatomis normal untuk mencegah jaringan lunak kehilangan elastisitasnya akibat infiltrasi karena edema dan perdarahan.
3.        Reposisi yaitu:
Setelah fraktur di reduksi, fragmen tulang harus di imobilisasi atau dipertahankan dalam posisi penyatuan yang tepat. Imobilisasi dapat dilakukan dengan cara fiksasi internal dan eksternal.
4.   Rehabilitasi, mempertahankan dan mengembalikan fungsi tulang secara sempurna, dengan       cara:
S  Mempertahankan reduksi dan imobilisasi
S  Meninggikan ekstremitas untuk meminimalkan pembengkakan
S   Memantau status neorovaskular
S  Mengontrol kecemasan dan nyeri
S   Kembali keaktivitas secara bertahap

Pin intra medular adalah salah satu alat ortopedi yang paling sering digunakan dalam dunia veteriner, dengan teknik yang baik dan seleksi indikasi yang tepat, pin intramedular di fiksasi pada patah tulang metacarpal atau femu, huerusr dan tulang yang lain dapat memberikan keuntungan dalam stabilitas patah tulang (Chapman, 1996).
Faktor – faktor yang mempengaruhi kecepatan persembuhan fraktur adalah 1). Umur 2). Tipe fraktura, 3). Variasi individu 4). Tempat terjadinya trauma  5). Gizi yang baik pada hewan akan mempercepat proses persembuhan, 6). Adanya komplikasi penyakit sehingga menyebabkan imunitas turun maka persembuhannya akan lebih lama.
Berdasarkan hasil penelitian Syafruddin dkk. (2004), pemasangan pin intramedular dengan diameter yang tepat, akan mempercepat proses kesembuhan dari fraktur dan meminimalisir komplikasi.

1.     Pencegahan
Pencegahan fraktur dapat dilakukan berdasarkan penyebabnya. Pada umumnya fraktur disebabkan oleh peristiwa trauma benturan atau terjatuh baik ringan maupun berat. Pada umumnya upaya pengendalian kecelakaan dan trauma adalah suatu tindakan pencegahan terhadap peningkatan kasus kecelakaan yang menyebabkan fraktur.

Daftar Pustaka

Chapman, M. W. 1986. The role of intermedullary fixation in open fraccture. Clinical Orthopedicts.
212:26-33.
Leighton, L. R. 1993. Small Animal Orthopedics. Mosby-year Book Europe LTD., London. Pp 3.16-3.39.
Putra, I.G.Ag.P., Jaya, A.A.G.W., Gorda, I.W. 2009. Ilmu Bedah Khusus Veteriner I. Fakultas
Kedokteran Hewan. Universitas Udayana. Denpasar
Syafruddin, A.B. Santosa, dan  M. Untoro. 2004. Gambaran radiografi patah tulang paha setelah pemakaian pin intrameduler pada anjing (Canis familiaris). J. Sain Vet. 22(1):64-67.
Degner, Daniel A. 2010. Humeral Condylar Fractures. Surgery Service, Michigan Veterinary
Specialist. Michigan, Amerika.










Senin, 13 Februari 2017

Feline Panleukopenia Virus (FPV)

Disusun oleh: Elfrida Martogi Simbolon, 
Mahasiswi Mangang di Awal Care asal Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Brawijaya

Rapid Test & Seekor Kucing yang Terinfeksi
Penyakit virus pada kucing sangatlah mematikan. Sampai saat ini, belum ditemukan pengobatan untuk kucing yang terserang penyakit virus. Lebih baik mencegah daripada mengobati. Ada banyak virus yang dapat menyerang kucing, salah satunya adalah Feline panleukopenia virus.

Apa itu Feline Panleukopenia?
F
eline Panleukopenia Virus (FPV) merupakan penyakit menular pada sesama kucing dengan nama lain: Feline distemper, Infectious enteritis, Cat fever, dan Cat typhoid. FPV menyerang segala umur kucing dan pada kasus yang parah, menyebabkan kematian kucing 75% terutama pada anak kucing.  Anak kucing, kucing sakit, dan kucing rumahan (paling sering terlihat pada kucing 3-5 bulan usia) yang tidak divaksin akan lebih rentan tertular dibandingkan dengan kucing tua yang biasanya lebih tahan karena mempunyai kekebalan bawaan atau sudah berulang kali terinfeksi.
FPV itu sendiri merupakan penyakit fatal pada kucing muda yang hampir sama seperti distemper pada anjing. Penyakit ini disebabkan oleh virus dari Famili Parvoviridae yang menyerang jaringan pembentuk darah, limfe, dan mukosa organ gastro intestinal sehingga menyebabkan penurunan jumlah leukosit dan enteritis. Virus ini banyak ditemukan pada urin dan feses, tetapi penularan dari kucing ke kucing selain melalui fecal-oral dapat juga melalui muntahan, urin, leleran mata ataupun leleran hidung.

Penularan FPV
K
ucing bisa menularkan virus FPV dalam urin, tinja, leleran hidung, dan infeksi yang bersentuhan dengan darah, urine, tinja, hidung sekresi, atau bahkan kutu dari kucing yang terinfeksi. Virus FPV dapat bertahan sampai untuk satu tahun di lingkungan, sehingga kucing sehat sering terinfeksi meskipun tanpa adanya kontak langsung dengan kucing yang terinfeksi. Kandang, wadah makanan, dan tangan atau pakaian orang yang menangani kucing yang terinfeksi dapat menjadi agen pembawa virus ke kucing yang lain. Oleh karena itu, sangat penting untuk mengisolasi kucing yang terinfeksi karen virus FPV sulit untuk dihancurkan dan tahan terhadap berbagai desinfektan.

Gejala Klinis
G
ejala klinis penyakit FPV adalah demam yang sangat tinggi, anoreksia, diare, dehidrasi atau penurunan jumlah sel darah putih yang sangat tajam. Pada anak kucing yang baru lahir virus menyerang perkembangan cerebellum sehingga menyebabkan neurogical abnormalitas.

Diagnosa FPV
D
iagnosis penyakit FPV dapat dilakukan berdasarkan sejarah penyakit, gejala klinis, isolasi dan identifikasi virus serta pemeriksaan serologik. Virus FPV dapat tumbuh secara efisien pada biakan sel lestari ginjal, organ paru-paru, lidah kucing dibandingkan dengan pada biakan sel lain seperti yang berasal dari biakan sel organ anjing.
Pemeriksaan serologik untuk mengetahui ada atau tidaknya antibodi terhadap virus FPV di dalam serum, pada saat ini sering menggunakan teknik haemagglutinationinhibition (HI) dan atau menggunakan serum neutralization test (SNT) teknik mikro.
Belakangan ini pemerksaan virus ini jadi lebih mudah, karena telah tersedia test kit yang memerlukan waktu lebih sedikit untuk menentukan diagnosa terhada Virus ini. Pengambilan sedikit sample feses (BAB) hewan yang dicurigai terinfeksi virus ini, maka dalam hitungan menit kuran dari 10 menit akan menunjukan hasil positif atau tidak dengan akurasi 90%.

Bagaimana Penanganannya?
K
emungkinan pemulihan dari FPV untuk anak kucing yang terinfeksi berusia kurang dari delapan minggu adalah rendah. Kucing yang lebih tua memiliki kesempatan lebih besar untuk bertahan hidup jika pengobatan yang memadai sejak awal karena tidak ada obat yang mampu membunuh virus. Rawat inap dan pengobatan sangat penting untuk menunjang kesehatan kucing dengan obat-obatan dan cairan sampai sistem kekebalan tubuh dapat melawan virus. Tanpa perawatan pendukung tersebut, kemungkinan 90% dari kucing yang terserang FPV bisa mati.
Setelah kucing didiagnosis dengan FPV, dilakukan pemberian cairan untuk memperbaiki dehidrasi, memberikan nutrisi, dan mencegah infeksi sekunder. Meskipun antibiotik tidak membunuh virus, namun tetap diperlukan karena kucing yang terinfeksi memliki risiko yang lebih tinggi dari infeksi bakteri karena sistem kekebalan tubuh mereka rendah (menurunnya sel darah putih).
Jika kucing bertahan selama lima hari, kemungkinan untuk sembuh sangat tinggi.  Isolasi yang ketat dari kucing terinfeksi diperlukan untuk mencegah penyebaran virus. Kucing sehat yang mungkin telah melakukan kontak dengan kucing yang terinfeksi, atau kontak dengan benda-benda atau orang-orang yang berada di dekat kontak dengan kucing sakit, harus dipantau untuk setiap tanda-tanda penyakit.

Bagaimana pencegahan FPV?
K
ucing yang bertahan hidup setelah terinfeksi mengembangkan kekebalan dari FPV untuk sisa hidup mereka. Pada kucing yang belum pernah terinfeksi, dapat divaksin guna mencegah tertular dari penyakit FPV. Pada anak kucing, imunitas temporer diterima melalui transfer antibodi dalam kolostrum susu pertama oleh induknya. Ini disebut "Imunitas pasif" melindungi anak-anak kucing dari infeksi tergantung pada tingkat antibodi pelindung yang dihasilkan oleh ibu. Imunitas ini berlangsung tidak lebih dari 12 minggu.

Vaksinasi FPV
H
anya ada satu serotipe dari FPV, dan vaksin umumnya sangat efektif dalam mencegah penyakit. Modivied-Live (ML) dan vaksin adjuvanted inaktif, juga ML vaksin intranasal dipasarkan di beberapa negara.
Secara umum, onset perlindungan muncul 1-3 minggu setelah vaksinasi kedua, dan vaksinasi ulang dilakukan setelah 1-3 tahun. Imunitas natural setelah infeksi virus virulen adalah seumur hidup, injeksi vaksin FPV menginduksi kekebalan setidaknya untuk tiga hingga tujuh tahun. Apakah ML vaksin intranasal FPV menawarkan lebih onset cepat perlindungan dari pada injeksi vaksin ML masih belum jelas. Studi serologis telah menunjukkan tidak adanya perbedaan antara kedua rute tersebut dari titer antibodi pasca vaksinasi.
Vaksinasi terhadap panleukopenia dianggap inti. Maternally derivied antibody (MDA) dapat mengganggu imunisasi karena titer antibodi yang tinggi selama periode neonatal, dan anak kucing akan beresiko terinfeksi pada periode antara memudarnya MDA dan vaksin. Titer MDA umumnya berkurang untuk memungkinkan imunisasi pada usia 8-12 minggu. Namun, ada beberapa variasi antara individu, pada beberapa anak kucing tidak memiliki atau memiliki kadar MDA yang rendah pada usia 6 minggu, dan sebagian lainnya gagal untuk menanggapi vaksinasi akhir yang diberikan pada usia 12-14 minggu. Dalam beberapa kasus, MDA dapat berlangsung lebih lama. Oleh karena variabilitas ini, seri awal vaksinasi harus dimulai pada usia 6-8 minggu dan diulang setiap 3-4 minggu (atau 2-3 minggu di tempat penampungan) sampai usia 16-20 minggu. Namun, di beberapa negara, vaksin hanya diizinkan untuk digunakan pada usia 8-9 minggu. Vaksinasi ulang harus dilakukan pada usia 1 tahun setelah anak kucing vaksinasi. Setelah itu, kucing harus divaksinasi sekali setiap 3 tahun.

Referensi
American Veterinary Medical Association., Cornell Feline Health Center. 2013. Feline panleukopenia. <www.avma.org>, < www.vet.cornell.edu/FHC> [diakses tanggal 30 Januari 2017]


Ford, Richard B., Gaskell, Rosalind M., Hartmann, Katrin., Hurley, Kate F., Lappin, Michael R., Levy, Julie K., Little, Susan E., Nordone, Shila K., Scherk, Margie A., Sparkes, Andrew H. 2013. Disease Information Fact Sheet Feline panleukopenia. Journal of Feline Medicine and Surgery Volume 15, pp 785–808

Kamis, 26 Januari 2017

Myasis (Belatungan pada Luka) dan Pencegahannya

Disusun Oleh: Sara Febria Putri
Mahasiswa Semester III Fak. Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
Sebagai Tugas Akhir Magang di Klinik Hewan Awal Care terhitung mulai tanggal 09 Januari 2017 s/d 22 Januari 2017

Gambar terkait
Gambar disitasi dari http://imakahiua.blogspot.co.id/
Penyebab Myasis
Myasis adalah penyakit yang disebabkan oleh infestasi larva lalat kedalam suatu jaringan hidup manusia dan hewan. Penyakit ini sering ditemukan pada Negara-negara dengan masyarakat golongan sosial ekonomi kelas rendah. Diantara lalat penyebab myasis di dunia, Chrysomya bezziana mempunyai nilai medis yang penting karena bersifat obligatif parasit. Infestasi myasis pada jaringan akan mengakibatkan berbagai gejala tergantung pada lokasi yang dikenai.

Larva yang menyebabkan myasis dapat hidup sebagai parasit di kulit, jaringan subkutan, soft tissue, mulut, traktus gastrointestinal, system urogenital, hidung, telinga dan mata. Higiene yang buruk dan bekerja pada daerah yang terkontaminasi, melatarbelakangi infestasi parasit ini. Manifestasi klinik termasuk pruritus, nyeri, inflamasi, demam, eosinofilia dan infeksi sekunder.
Kejadian Myiasis di Indonesia teridentifikasi disebabkan oleh larva lalat : Chrysomia benziana, Booponus intonsus, Lucillia, Calliphora, Musca dan Sarcophaga. Genus Chrysomia yang memegang peranan penting dalam kasus myasis yaitu Chrysomia megacephala dan Chrysomia bezziana. Berdasarkan sifatnya maka larva tersebut dibedakan menjadi : 

Hasil gambar untuk myasis
Siklus Hidup 
Fakultatif Parasit yaitu : larva secara normal hidup bebas dan mampu berkembang pada bahan bahan organik yang busuk, tetapi larva tersebut dapat dijumpai pada hewan hidup dimana mampu berkembang dan selanjutnya dapat bertindak sebagai parasit untuk kelangsungan hidupnya. Terdiri dari Blowflies , misalnya : Larva dari Lucilia, Phormia, Calliphora dan Chrysomyia. 

Obligat Parasit yaitu larva secara normal membutuhkan jaringan induk semangnya sebagai makanan dalam perkembang biakannya terdiri dari: Bot flies, misalnya, Larva dari genus Gasterophilus, Oestrus. Warble flies misalnya, Larva dari Hipoderma bovis dan H. lineatum. Screw worm misalnya, Larva dari Callitroga hominivorax, C. macellaria dan Chrysomyia bezziana. 

Berdasarkan lokasi dari myasis maka dapat dibedakan menjadi : 

Eksternal myasis
Myasis yang terjadi pada organ luar tubuh yang disebabkan karena luka. Myasis ini sering diakibatkan oleh larva dari kelompok Blowflies serta Screw worm. 

Internal myasis
Myiasis yang terjadi pada organ organ dalam dan rongga rongga lainnya. Sering diakibatkan oleh larva dari kelompok Bot flies dan Warble flies. Siklus hidup dari C. bezziana berkisar antara 9-15 hari dan lalat betina bertelur sekitar 150-200 telur sekaligus. Telur diletakkan di luka dan selaput lendir dari hewan hidup dan akan menetas setelah 24 jam pada suhu 30°C. Setelah 12-18 jam dari waktu penetasan telur, larva stadium 1 muncul dari dalam telur dan bergerak dipermukaan luka atau pada jaringan yang basah. Larva ini berubah menjadi larva stadium II setelah 30 jam dan larva stadium III setelah 4 hari. Larva stadium II dan III menembus jaringan hidup dari host dan hidup dari jaringannya. Pada saat makan hanya kait-kait posterior yang tampak. Larva stadium III meninggalkan luka setelah makan dan berubah menjadi pupa dan kemudian lalat dewasa. Larva akan membentuk pupa dalam waktu 24 jam pada suhu 28°C. 

Penetasan lalat dari pupa sangat tergantung dari lingkungan. Pupa akan menetas menjadi lalat dalam seminggu pada suhu 25°C-30°C, sedangkan pada temperatur yang lebih rendah akan lebih lama bahkan sampai berbulan-bulan. Lalat jantan dan betina mempunyai daya tahan hidup yang relatif sama yaitu 15 hari dalam kondisi laboratorium, hingga empat puluh hari. 

Di dalam ilmu epidemiologi beberapa faktor yang dapat menjadi pendorong timbulnya masalah penyakit, antara lain adalah adanya agen penyakit, adanya induk semang yang peka, lingkungan pendukung dan manajemen ternak. Seperti telah diuraikan di atas bahwa agen myiais terdapat di seluruh daerah di Indonesia, sedangkan lingkungan berupa daerah yang beriklim tropis dengan tingkat kelembaban yang tinggi diyakini sangat cocok untuk perkembangan lalat C. bezziana.

Kejadian myiasis dapat diawali karena gigitan caplak, gigitan lalat Tabanidae, akibat infestasi Sarcoptes scabiei, cacing Strongyloides sp ., pascapartus, luka umbilikus, luka traumatika karena perkelahian, tergores duri atau benda lainnya.

Sebagai faktor predisposisi (pendukung) utama terjadinya Myiasis adalah harus didahului dengan adanya luka. (luka traumatik, gigitan caplak, tembak, operasi, gigitan hewan lain dan sebab lainnya). Lalat betina dewasa akan bertelur disekitar luka, jika telur sudah menetas maka larva akan bergerak dan masuk kedalam luka serta memakan sel-sel jaringan, kemudian jatuh membentuk kokon dan didalamnya berkembang menjadi pupa dan akhirnya keluar lalat dewasa. Myiasis mempunyai tingkat morbiditas tinggi dan mortalitas rendah. Myiasis dapat bersifat fatal bila tidak dilakukan pengobatan dengan segera, bila terjadi dalam waktu yang lama akan menyerang organ vital, dan apabila terjadi infeksi sekunder. Pada beberapa kasus, pemilik hewan tidak menyadari bahwa hewan kesayangannya terserang myiasis terutama pada hewan-hewan berbulu panjang.

Infestasi larva myiasis tidak menimbulkan gejala klinis yang spesifik dan sangat bervariasi tergantung pada lokasi luka. Gejala klinis pada hewan antara lain berupa demam, radang, peningkatan suhu tubuh, kurang nafsu makan, tidak tenang sehingga mengakibatkan ternak mengalami penurunan bobot badan dan produksi susu, kerusakan jaringan, infertilitas, hipereosinofilia serta anemia . Apabila tidak diobati, myiasis dapat menyebabkan kematian ternak sebagai akibat keracunan kronis amonia.

Cara pencegahan dari penyakit Myasis ini adalah diusahakan tidak terjadi kelukaan yang nantinya akan menjadi tempat berkembangnya larva lalat dan tindakan penurunan populasi lalat. Kasus myasis banyak terjadi pada daerah-daerah endemik myasis. Kondisi ini berkaitan erat dengan jumlah populasi lalat penyebab myasis serta ekologi daerah tersebut. Daerah yang memiliki pepohonan, semak-semak dan sungai merupakan tempat ideal untuk kelangsungan hidup lalatlalat penyebab myasis. Pengendalian populasi lalat C. bezziana tidak mungkin diarahkan dengan melakukan penebangan hutan atau pembakaran semak-semak karena akan mengganggu ekosistem lainnya. Sejauh ini, berbagai upaya pengendalian dan pemberantasan C. bezziana telah banyak dilakukan. 

Referensi
S.Partoutomo. 2000. Epidemiologi dan Pengendalian Myiasis di Indonesia. WARTAZOA (10) (1) : 20-25. Wardhana, April H. 2006.

Chrysomya bezziana penyebab myiasis pada hewan dan manusia : permasalahan dan penanggulangannya. WARTAZOA (16) (3) : 146-155.

Pemeriksaan Umum Pada Hewan Kecil

Disusum Oleh: Hefri Yunaldi
Mahasiswa Semester III Fak. Kedokteran Hewan, Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh
Sebagai Tugas Akhir Magang di Klinik Hewan Awal Care terhitung magang mulai tgl 09 Januari 2017 s/d 22 Januari 2017

BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Ilustrasi Dokter Hewan Sedang Memeriksa Seekor Anjing 
Pemeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis adalah sebuah proses dari seorang ahli medis memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis penyakit. Hasil pemeriksaana akan dicatat dalam rekam medis. Rekammedis dan pemeriksaan fisik akan membantu dalam penegakkan diagnosis dan perencanaan perawatan pasien. Biasanya, pemeriksaan fisik dilakukan secara sistematis, mulai dari bagian kepala dan berakhir pada anggota gerak. Setelah pemeriksaan organ utama diperiksa dengan inspeksi, palpasi, perkusi, dan auskultasi, beberap ates khusus mungkin diperlukan seperti test neurologi.

1.2 Rumusan Masalaha. Bagaimana cara pemeriksaan fisik secara umum pada hewan kecil ?
1.3 TujuanTujuan umum pemeriksaan fisik yaitu :
Untuk memperoleh informasi mengenai status kesehatan pasien.
Untuk mengidentifikasi status “normal”
Untukmengetahui adanya variasi dari keadaan normal tersebut dengan cara memvalidasi keluhan-keluhan klien dan gejala-gejala pasien.

1.4 ManfaatManfaat pemeriksaan fisik yaitu :
a. Hasil dari auskultasi, inspeksi, palpasi, perkusi dan keluhan klien dijadikan sebagai catatan/rekam medis (medical record) pasien, menjadi dasar data awal dari temuan-temuan klinis yang kemudian akan dijadikan sebagai bahan pertimbangan diagosa klinik
(Raylene M Rospond, 2009; terj. D Lyrawati, 2009)


BAB II
PEMBAHASAN
2.1. Konsep TeoriTata cara pemeriksaan fisik hewan dapat dilakukan dengan catur indera pemeriksa, yakni dengan penglihatan, perabaan, pendengaran, serta penciuman (pembauan) antara lain dengan cara inspeksi, palpasi atau perabaan, perkusi atau mengetuk, auskultasi atau mendengar, mencium atau membaui, mengukur dan menghitung, pungsi pembuktian, tes alergi, pemeriksaaan laboratorium klinik serta pemeriksaan dengan alat dignostik lain (Widodo, 2011)

Anamnesis atau history atau sejarah hewan adalah berita atau keterangan atau lebih tepatnya keluhan dari pemilik hewan mengenai keadaan hewannya ketika dibawa dating berkonsultasi untuk pertama kalinya, namun dapat pula berupa keterangan tentang sejarah perjalanan penyakit hewannya jika pemilik telah sering dating berkonsultasi (Widodo, 2011).
Melihat, membau, dan mendengar penting untuk pemeriksaan fisik. Dokter hewan yang baik menghindari membuat keputusan diagnosa berdasarkan data turunan dari laboratorium yang melewatkan pemeriksaan fisik karena korelasi semua data relevan untuk determinasi diagnosa yang tepat.Ketika memungkinkan, suhu dan berat badan hewan seharusnya dicatat sebelum dokter hewan masuk ruang pemeriksaan. Hal ini dilakukan oleh kooperator yang berkesempatan untuk komunikasi dengan pemilik hewan atau klien, mengumpulkan informasi yang berhubungan, catat perubahan berat, dan identifikasi pemilik hewan atau klien.Ini adalah kesempatan yang baik bagi kooperator untuk mencatat obat yang baru saja diberikan, penggunaan agen profilaksis (misal untuk cacing hati dan kutu), status vaksinasi hewan, dan status reproduksinya (misal mandul, normal, atau siklus birahi terakhir).Pemeriksaan fisik mulai ketika dokter hewan memasuki ruang pemeriksaan. Dokter klinik harus melihat kenampakan umum tentang hewan (Ettinger, 2010).

Tatacara atau tata urut dapat juga disebut sebagai tahapan yang dipakai untuk menentukan atau mengenali gejala-gejala penyakit adalah bervariasi. Pemeriksaan fisik hewan dapat dilakukan dengan menggunakan catur indra pemeriksa , yakni dengan penglihatan,perabaan,pendengaran, serta penciuman. Adapun teknik- teknik pemeriksaan sebagai berikut :

a. Inspeksi Inspeksi atau peninjaun atau pemantauan dapat dilakukan dengan cara melihat hewan atau asien secara keseluruhan dari jarak pandang secukupnya sebelum hewan di dekati untuk suatu pemeriksaan lanjut. Yang diinspeksi adalah permukaan luar dari badan hewan dari daerah kepala ,lehaer ,badan samping kiri dan kanan, belakang dan kaki/ekremitas,aspek kulit ,aspek rambut ,orifisim eksternum mulut, anus, vulva, vagina atau preputium. 

b. Palpasi atau perabaan Pemeriksaan permukaan luar ragawi dapat dilakukan dengan cara palpasi atau perabaan dengan tangan. Di setiap bagian-bagian ragawi baik bagian tengkorak, leher, bagia rongga dada atau thoraks, bagian perut atau abdomen,bagian panggul atau pelvis dan alat gerak atau ekterimitas dapat dinilai kualitasnya dengan cara palpasi. Untuk ragawi bagian luar dapat di periksa adanyapalpus-palpus arteria subkutanea, kelenjar getah bening atau limponodus, trakea, pertulangan dada(ossa costae), lekuk pertulngan kaki-kaki, dan konformitas tulang dahi dengn mudah di palpasi. Palpasi demikian disebut perabaan permukaan atau perabaan superfacialis.Namun demikian sebagian organ hanya dapat dipalpasi dengan lebih intensif untuk mendapatkan hasilnya.Palpasi demikian disebut palpasi dalam atau palpasi profundal.Contoh palpasi profundal yaitu untuk mendapatkan ada tidaknya batuk dilakukan penekanan menggunakan telapak tangan di daerah trakea sepertiga atas ragio cervikalis atau menekan tulang-tulang costae kiri dan kanan secara bersamaan.

c. Perkusi atau mengetukPrinsip perkusi adalah mengetuk atau memukul alat untuk mengeluarkan denting atau gema. Pada pemeriksaan dengan cara perkusi ini adalah mendengarkan pantulan gema yang di timbulkan oleh alat pleximeter yang di ketuk oleh palu (hammer) atau jari pemeriksa. Perkusi di arahkan atau di letakan pada bidang datar di atas daerah yang dipenuhi udara pada bagian bawahnya.Daerah yang banyak ditemukan udara di bawahnya adalah sinus-sinus hidung, rongga dada sepertiga bagian atas, rongga dada sepertiga bagain bawah, daerah abdomen bagian mesogastrikus, serta daerah abdomen bagian usus-usus kecil.Pantulan balik gema yang diperoleh dari hasil ketukan di bandingkan terhadap denting atau gema ketukan yang ditimbulkan oleh pleximeter.Pantulan balik gema dapat meredu atau dapat nyaring di pertinggi jika dibandingkan terhadap gema perkusi.

d. Auskultasi atau mendengarkan Melakukan auskultasi adalah mendengarkan suara yang ada yang ditimbulkan oleh kerja organ aik pada saat baik fungsional, maupun pada kasus-kasus tertentu.Pronsip penggunaan alat auskultasi adalah mendengarkan suara yang di timbulkan oleh aktivitas organ ragawi kemudian di evaluasi untuk mendapatkanketerangan kejadian pada organ yang mengeluarkan organ tersebut. Auskultasi dapat dilakukan dengan cara langsung yaitu telinga diletakan di atas daerah atau organ yang di duga mengeluarkan suara yang dimaksud, atau dengan car tidak langsung dengan menggunakan stoteskop. Auskultasi secara langsung tersebut masih dijalankan oleh para dokter hewan atau pemeriksa bahkan beberapa tempat di idonesia di mana tidak tersedia stoteskop.Kepekaan telinga dokter menjadi andalan untuk melakukan evaluasi kualitas dan kuantits hasi auskultasi.Secara prinsip pada pemeriksaan tidak langsung ujung objek pada alat stoteskop di lapisi membrane yang bertujuan untuk memfokuskan atau mengumpulkan gelombang suara (vibrasi) yang timbul dari daerah yang di curigai, diteruskan oleh slang khusus yang tidak memecah atau mengurai suara sampai diterima telinga pemeriksa melalui slang satunya. Suara yag dapat ditangkap pada saat melakukan auskultasi dapat berasal dari gerak paru-paru pada saat inspirasi maupun ekspirasi, suara katup-katup jantung, suara peristaltic lambung,dan suara peristaltic usus-usus.

e. Mencium atau membauiPemeriksaan fisik hewan dengan cara mencium atau membaui ini dimaksudkan untuk megetahui perubahan aroma atau bau yang ditimbulkan atau di keluarkan dari lubang umblah hewan yang nantinya akan dapat menuntun pemeriksaan hewan pada kejadian penyakit tertentu.

2.2 Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan umum yang meliputi; Inspeksi diantaranya melihat, membau, dan mendengarkan tanpa alat bantu. Diusahakan agar hewan tenang dan tidak curiga kepada pemeriksa.Inspeksi dari jauh dan dekat terhadap pasien secara menyeluruh dari segala arah dan keadaan sekitarnya.Diperhatikan pula ekspresi muka, kondisi tubuh, pernafasan, keadaan abdomen, posisi berdiri, keadaan lubang alami, aksi dan suara hewan.(Fowler. 2008).

Pulsus, temperatur dan nafas
Pulsus diperiksa pada bagian arteri femoralis yaitu sebelah medial femur (normal: 92-150/menit). Nafas diperiksa dengan cara menghitung frekuensi dan memperhatikan kualitasnya dengan cara melihat kembang-kempisnya daerah thoraco-abdominal dan menempelkan telapak tangan di depan cuping bagian hidung (normal: 26-48/menit) ). (Fowler. 2008). Temperatur diperiksa pada rectum dengan menggunakan termometer (normal: 38,0 ‘C-39,5;C). dan suhu normal pada anjing besar (38,0 ‘C- 38,5’C), anjing kecil (38,5 ‘C – 39,5 ‘C). (Jaksch & Glawisching,1981)

Selaput lendir Conjunctiva diperiksa dengan cara menekan dan menggeser sedikit saja kelopak mata bawah. Penampakan conjunctiva pada hewan tampak pucat. Membran mukosa yang tampak anemia (warna pucat) dan lembek merupakan indikasi anemia.Intensitas warna conjunctiva dapat menunjukkan kondisi peradangan akut seperti enteritis, encephalonitis dan kongesti pulmo akut.Cyanosis (warna abu- abu kebiruan) dikarenakan kekurangan oksigen dalam darah, kasusnya berhubungan dengan pulmo atau sistem respirasi.Jaundice (warna kuning) karena terdapatnya pigmen bilirubin yang menandakan terdapatnya gangguan pada hepar. Hiperemi (warna pink terang) adanya hemoragi petechial menyebabkan hemoragi purpura (Fowler. 2008).

Sistem Pencernaan Pakan atau minum diberikan untuk melihat nafsu makan dan minum.Kemudian dilihat juga keadaan abdomen antara sebelah kanan dan kiri. Mulut, dubur, kulit sekitar dubur dan kaki belakang juga diamati, serta caradefekasi dan fesesnya. (Fowler. 2008).

1) Mulut, Pharynx, dan OesophagusMulut hewan dibuka dengan menekan bibir kebawah gigi atau ke dalam mulut, dan dilakukan inspeksi.Bila perlu, tekan lidah dengan spatel agar dapat dilakukan inspeksi dengan leluasa seperti bau, mulut, selaput lendir mulut, pharynx, lidah, gusi, dan gigi-geligih serta kemungkinan adanaya lesi, benda asing, perubahan warna, dan anomali lainnya.Oesophagus dipalpasi dari luar sebelah kiri dan pharynx.(Fowler. 2008).

2) AbdomenInspeksi dilakukan pada abdomen bagian kiri dan kanandengan memperhatikan isi abdomen yang teraba serta dilakukan auskultasi dari sebelah kanan ke kiri untuk mengetahui peristaltik usus.Lakukan pula eksplorasi dengan jari kelingking, perhatikan kemungkinan adanya rasa nyeri pada anus atau rektum, adanya benda asing atau feses yang keras.(Fowler. 2008).

Sistem Pernafasan Adanya aksi-aksi atau pengeluaran seperti batuk, bersin hick-up, frekuensi dan tipe nafasnya perlu diperhatikan.(Fowler. 2008).
1) HidungPerhatikan keadaan hidung dan leleran yang keluar, rabalah suhu lokal dengan menempelkan jari tangan pada dinding luar hidung.Serta lakukanlah perkusi pada daerah sinusfrontalis.(Fowler. 2008).

2) Pharynx,Larinx, TrakeaDilakukan palpasi dari luar dengan memperhatikan reaksi dan suhunya, perhatikan pula limfoglandula regional, suhu, konsistensi, dan besarnya, lalu bandingkan antara limfoglandula kanan dan kiri.(Fowler. 2008).

3) Rongga dadaPerkusi digital dilakukan dengan membaringkan kucing pada alas yang kompak, dan diperhatikan suara perkusi yang dihasilkan.Palpasi pada intercostae lalu perhatikan adanya rasa nyeri pada pleura dan edeme subcutis.(Boddie. 1962).

Sistem Sirkulasi Diperhatikan adanya kelainan alat peredaran darah seperti anemia, sianosis, edema atau ascites, pulsus venosus, kelainan pada denyut nadi, dan sikap atau langkah hewan.Periksa frekuensi, irama dan kualitas pulsus atau nadi, kerjakan pemeriksaan secara inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi pada daerah jantung (sebelah kiri). Perhatikan pula adanya pulsasi di daerah vena jugularis dengan memeriksa pada 1/3 bawah leher.(Boddie. 1962).

Sistem Limphatica Dilakukan inspeksi, untuk mengetahui kemungkinan adanya kebengkakan padalimfoglandula.Limfoglandula yang dapat dipalpasi pada kucing yaitu; lgl.submaxillaris, lgl. parotidea, lgl. retropharyngealis, lgl. cervicalis anterior, lgl. cervicalis medius, lgl. cervicalis caudalis, lgl. prescapularis, lgl. axillaris (dapat teraba jika kaki diabduksikan), lgl. inguinalis, lgl. superficialis (pada betina disebut lgl. supramammaria), lgl. poplitea, lgl. mesenterialis. Palpasi dilakukan di daerah limfoglandula, dengan cara memperhatikan reaksi, panas, besar dan konsistensinya serta simetrinya kanan dan kiri (Boddie. 1962). 

Sistem Lokomotor Perhatikanlah posisi, cara berdiri dan berjalan hewan. Periksalah musculi dengan membandingkan ekstremitas kanan dan kiri.Serta melakukan palpasi.Perhatikan pula suhu, kontur, adanya rasa nyeri dan pengerasan.Pemeriksaan tulang seperti musculi diperhatikan bentuk, panjang dan keadaan. Persendian diperiksa dengan cara inspeksi cara berjalan dan keadaan persendian, lakukanlah palpasi apakah ada penebalan, cairan (pada kantong synovial ataukah pada vagina tendinea) (Boddie. 1962). 

Organ Uropoetica Perhatikan sikap pada waktu kencing.Amati air seni (kemih) yang keluar, perhatikan warnanya, baunya dan adanya anomali (darah, jonjot, kekeruhan dan lain sebagainya). Ginjal anjing dilakukan palpasi pada daerah lumbal, cari ginjal.Pada kucing dipalpasi dengan rongga perut, ginjal kucing menggantung seperti kue bakpia atau mainan yoyo.Perhatikan reaksi, besar, konsistensi dan simetrinya. Vesica urinaria; palpasi rongga perut pada waktu isi, kosongkan dengan kateter, palpasi pada keadaan kosong dari kemih, raba kemungkinan adanya benda asing (batu, tumbuh ganda) atau adanya pembengkakan/penebalan dinding vesicaurinaria.

BAB III
KESIMPULAN
Pemeriksaa umum harus didahului dengan melakukan sinyalmen dan anamnesa dengan keterangan dari klien. Tata cara pemeriksaan fisik hewan dapat dilakukan dengan catur indera pemeriksa, yakni dengan penglihatan, perabaan, pendengaran, serta penciuman (pembauan) antara lain dengan cara inspeksi, palpasi atau perabaan, perkusi atau mengetuk, auskultasi atau mendengar, mencium atau membaui, mengukur dan menghitung. Sebelum melakukan diagnosoa pemeriksaan fisik sangat dibutuhkan untuk menentukan kondisi tubuh pasien yang sedang diperiksa dalam keadaan normal tau abnormal dan hasil dari pemeriksaan umum akan dijadikan pemtimbangan untuk menentukan penyakit pasien.

Dengan petunjuk yang didapat selama pemeriksaan riwayat dan fisik, ahli medis dapat menyusun sebuah diagnosis diferensial, yakni sebuah daftar penyebab yang mungkin menyebabkan gejala tersebut. Beberapa tes akan dilakukan untuk meyakinkan penyebab dari penyakit. Sebuah pemeriksaan yang lengkap akan terdiri dari penilaian kondisi pasien secara umum dan sistem organ yang spesifik. Dalam prakteknya, tanda vital atau pemeriksaan suhu, denyut dan tekanan darah selalud ilakukan pertama kali.

DAFTAR PUSTAKA

Boddie., G.F. 1962. Diagnostic Methods in Veterinary Medicine. Philadelphia: J.B. Lippincott Company.

Fowler, Murray E. 2008. Restraint and Handling of Wild and Domestic Animals 3rd Ed. UK: Wiley-Blackwell Publishing

Widodo, Setyo. 2011. Diagnostik Klinik Hewan Kecil. Bogor: IPB Press.